Cahaya.news,–"Perubahan Polri tidak mungkin terjadi apabila pimpinannya hanya meminta anggota berubah. Perubahan harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan di lapangan."
Kalimat tegas ini disampaikan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dalam uji kelayakan dan kepatutan bersama Komisi III DPR RI setelah ditunjuk sebagai calon tunggal Kapolri oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan tekadnya untuk memimpin lewat keteladanan nyata dengan turun langsung ke lapangan, bukan demi mencari panggung, melainkan untuk mendengar jeritan masyarakat, menyerap aspirasi anggota, serta mengambil keputusan yang adil dan tuntas.
Bagi Suyudi, jabatan Kapolri bukanlah puncak karier yang patut dibanggakan secara personal, melainkan puncak tanggung jawab moral kepada bangsa. Ia mengingatkan bahwa tidak ada tekanan tugas yang boleh dijadikan pembenaran bagi aparat untuk memeras, menerima suap, merekayasa perkara, membekingi bisnis ilegal, maupun memakai kekerasan sewenang-wenang.
Reformasi yang ia canangkan menolak budaya arogansi dan kebohongan, sekaligus menuntut setiap penyimpangan internal diselesaikan secara tegas dan transparan tanpa harus menunggu viral di media sosial terlebih dahulu.
Ke depan, tolok ukur kesuksesan Polri tidak lagi dinilai dari tumpukan slogan, aplikasi seremonial, atau rapat belaka, melainkan dari manfaat konkret yang dirasakan rakyat: laporan direspons cepat, korban kejahatan terlindungi, hukum ditegakkan adil, serta anak-anak merasa aman saat melihat polisi, bukan malah takut. Menyatakan siap dinilai dari hasil nyata dan bukan janji manis, Suyudi menegaskan bahwa wibawa sejati Polri lahir dari rasa percaya masyarakat, bukan dari rasa takut.
*Ahmad Sayudhi*




Posting Komentar